Monday, March 29, 2010

Islam dan Modernisasi




Ada saja orang yang mengatakan kembali ke Islam artinya kembali ke jaman onta. Ada juga yang mengatakan jika kembali ke Islam kita akan mundur beberapa ratus tahun ke belakang. Seolah-olah jika kita menjalankan aturan Islam secara kaffah harus meninggalkan semua teknologi yang kita miliki.

Tentu saja pendapat tersebut keliru. Dilihat dari sisi historis saja pendapat tersebut jelas kesalahannya. Sebab pada masa yang lalu justru Islam adalah pemimpin dunia dalam urusan sains dan teknologi.


Ada dua kemungkinan mengapa pendapat seperti seperti itu muncul: mungkin berasal dari keinginan melecehkan Islam, atau mungkin timbul dari pemahaman Islam yang kurang sempurna. Sebagai contoh, saya pernah mendengar cerita dari teman yang entah benar atau salah. Katanya, dahulu seorang syaikh Arab menolak alat bor minyak bumi dengan alasan bid’ah.

Pada masa lalu, teknologi yang dibawa Barat cukup mengagetkan umat Islam. Pada masa kekagetan itu, umat Islam kebingungan dalam menyaring segala sesuatu yang berasal dari Barat. Akibatnya timbul tiga gologan. Gologan pertama melarang segala sesuatu yang datang dari Barat karena berasal dari kaum kafir. Ada golongan yang menerima semua yang berasal dari Barat dengan alasan agar Islam jadi maju. Ada juga yang menyaring mana yang sesuai dengan Islam mana yang tidak.

Saring!

Itu kata yang sering diungkapkan menghadapi modernisasi yang dibawa Barat. Namun apa alat saring yang tepat bagi umat Islam? Yang pasti bukan budaya Indonesia yang tidak jelas. Bagaimana tidak jelas. Budaya Indonesia berbeda dari Sabang sampai Merauke. Mau budaya Aceh? Budaya Bali? Atau malah budaya Papua? Semua budaya itu berbeda dengan kekhasannya masing-masing. Tapi tentu saja bukan dengan budaya Arab. Bahkan semuanya harus ditolak bila tidak lolos saringan Islam.

Alat saring itu adalah kategorisasi hadharah dan madaniyah. Kategorisasi ini diperkenalkan syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nidzamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam, -red). Hadharah, yang sering banyak orang artikan sebagai peradaban, beliau definisikan dengan sekumpulan mafahim (pemahaman/pemikiran/hukum) tentang kehidupan. Sedangkan madaniyah didefinisikan sebagai bentuk-bentuk materiil berupa benda-benda hasil karya manusia yang digunakan dalam kehidupannya.

Berdasarkan pengertian tadi, ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan hukum-hukum serta adat istiadat termasuk ke dalam hadharah. Demokrasi, HAM, privatisasi hak publik merupakan contoh mafahim yang berasal dari hadharah Barat. Sedangkan semua benda konkrit dapat dilihat, dirasa, diraba, dan dipergunakan seperti komputer, handphone dan mobil merupakan bentuk madaniyah.

Hadharah
Hadharah ini khas sesuai dengan ideologinya, karena itu tidaklah netral. Ia dihasilkan dari pandangan hidup tertentu. Hadharah Barat dihasilkan dari pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme, -red). Sederhananya segala hal yang berkaitan dengan kehidupan, mungkin kecuali ibadah, harus diatur manusia. Hal ini tentu saja bertentangan dengan hadharah Islam.

Hadharah Islam asasnya aqidah Islam. Aqidah Islam menuntut ketundukan penuh terhadap aturan yang diturunkan Allah melalui rasul-Nya. Namun jangan negative thinking dahulu. Walau aturan yang ada dalam Islam sangat komprehensif tapi sebenarnya tidak mempersulit umatnya jika dipahami dengan benar, malah memberikan kesejahteraan bagi yang menjalankannya.

Secara konsep, aturan yang dimiliki Islam menjangkau setiap tindakan pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan jasmaniah maupun naluriah (beragama, seksual, mempertahankan diri). Hal ini karena manusia tidak mengetahui aturan yang baik secara holistik. Selain — tentu saja — menentramkan di dunia, apakah aturan itu bisa menyelamatkannya di akhirat atau tidak.

Karena bertentangan asasnya, sudah pasti hadharah Barat ini lah yang kita saring.

Bila kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan banyak pertentangan antara hadharah Islam dan hadharah Barat. Dalam keyakinan misalnya, pemahaman Allah adalah Dzat yang memberi rizki, Maha Pemurah dan Maha Kuasa yang dipresentasikan dengan senantiasa memohon rizki kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya saja merupakan hadharah Islam. Sementara, keyakinan ada kekuatan lain seperti ratu laut selatan atau dewa-dewi hingga perlu pesta laut agar nelayan memperoleh rizki atau ruwatan bagi anak tunggal (dalam tradisi Jawa kuno disebut ontang anting) untuk mendapat keselamatan tergolong hadharah bukan Islam.

Begitu pula pemikiran bahwa manusia harus menutup aurat merupakan hadharah Islam. Sebab merupakan perintah Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31. Sementara, pemikiran manusia itu bebas berperilaku hingga wanita boleh berpakaian mini dalam kehidupan umum (hayatul ‘am), berpakaian ketat dan transparan di hadapan umum merupakan hadharah bukan Islam.

Menyangkut ekonomi, hukum dalam perekonomian tidak boleh sedikit pun mengandung unsur riba merupakan hadharah Islam. Sebab Allah mengharamkannya. Nabi pun menjelaskan betapa besar dosa pelaku riba, bahkan melebihi dosa seseorang berzina dengan ibu kandungnya! Sebaliknya, renten dan riba yang membudaya dilakukan di tengah kehidupan sekarang merupakan hadharah bukan Islam.

Dalam bidang kenegaraan pun demikian. Gagasan tentang paham kebangsaan (nasionalisme) bukan hadharah Islam. Islam tidak mengenal paham seperti ini. Malah Rasulullah SAW bersabda :

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, orang yang berperang karena ‘ashabiyyah serta orang-orang yang mati karena ‘ashabiyyah”
(HR. Abu Dawud)

Madaniyah
Bagaimana dengan madaniyah? Madaniyah adalah bentuk fisik, namun tidak otomatis bebas nilai. Hal ini karena ada bentuk fisik yang dipengaruhi suatu hadharah tertentu. Kita pun perlu menyaring hal seperti ini. Pakaian pastur misalnya, pakaian ini dihasilkan hadharah tertentu (Kristen). Karena itu, tidak boleh kita mempergunakannya.

Bila kita perhatikan, Islam pun menghasilkan madaniyah. Rumah dalam konsep Islam adalah tempat kehidupan khusus (hayatul khas) di mana seseorang bisa membuka ‘aurat kecil’-nya (saya lupa istilahnya) di hadapan mahram-mahramnya. Karena itu, Islam pun melarang seseorang ‘noong’ (ngintip) ke dalam rumah. Lebih lagi Islam mengharuskan seseorang meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah. Seorang muslim yang baik membuat rumah dengan memperhatikan konsep-konsep tadi.

Contoh lain madaniyah yang dipengaruhi hadharah Islam misalnya ilmu hisab dalam astronomi yang dipergunakan untuk memperkirakan datangnya hilal. Atau saya pernah mendengar ada sebuah mesjid di timur tengah yang dibangun pada masa yang lampau yang tata akustik ruangannya memungkinkan suara imam sampai di seluruh penjuru masjid tanpa menggunakan speaker.

Selain yang dipengaruhi hadharah, madaniyah yang tersisa netral dan bisa diterima. Sains dan teknologi merupakan contohnya. Siapapun asalkan meneliti dengan cermat akan menemukan hasil yang sama dalam penelitian tertentu apapun agama atau ideologinya. Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”
(HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan aturan bahwa seorang muslim diperbolehkan mengembangkan ilmu pengetahuan, profesi, industri, dan teknologi modern dan apa saja yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan selama tidak bertentangan dengan aturan Islam. Atas dasar ini, Rasulullah mengirim dua orang sahabat yaitu ‘Urwah ibnu Mas’ud dan Ghailan ibnu Maslamah ke kota Jarasy di Yaman mempelajari pembuatan senjata dabbabah (semacam tank di masa itu). Senjata tersebut dipergunakan untuk menerobos benteng lawan.

Saya ingat ada seorang ilmuwan ketika menyampaikan ceramah di Masjid Salman mengatakan sains itu tidaklah netral. Alasannya dengan mencontohkan lukisan porno sebagai aplikasi sains dan teknologi. Tentu saja penjelasannya tidak tepat. Lukisan adalah madaniyah. Sedangkan kepornoannya karena dipengaruhi hadharah tertentu. Contoh tersebut tidak bisa menggeneralisasi semua aplikasi sains dan teknologi pasti selalu dipengaruhi hadharah tertentu. Tentu saja tergantung siapa pemakainya.

Penutup
Modernisasi bisa bermakna dua hal, makna pertama mengambil mentah-mentah setiap hal yang datang dari Barat. Sedangkan makna kedua, mengambil sains dan teknologi Barat bahkan berusaha kembali menjadi soko guru dunia di bidang sains dan teknologi. Bila makna kedua yang dipakai, kita bisa menjadi Islam dan modern sekaligus.

Oleh: Irfan Habibie
Sumber: http://irfanview.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment