Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Tuesday, May 10, 2011

Cara mengetahui aib diri

“Tampak jelas semut di ujung lautan namun tak tampak  gajah di pelupuk mata” tampaknya peribahasa ini cocok disandang oleh orang yang menegdepankan egoisme pribadinya, ia hanya disibukkan dengan mencari dan mengoreksi kekurangan orang lain, padahal segudang kelemahan dan kekurangan mungkin bertumpuk dalam dirinya namun tidak disadarinya.

Wednesday, November 3, 2010

Iman Kepada Rosul Alloh

Mempercayai kepada rosul Alloh bagi umat muslim adalah fardlu ain, karena percaya kepada Rosul Alloh merupakan merupakan sebagian dari rukun iman yang enam. seorang muslim yang mendustakan adanya para Rasul bisa dikatakan telah ia telah telah kafir (lihat Q.S.An Nisa : 150) 

Friday, October 29, 2010

Kebajikan menurut Allah

Salah satu materi pelajaran PAI di kelas 2 SMA adalah membahas tentang surat al-baqoroh ayat 177, materi ini di sampaikan kepada siswa tujuannya agar mereka dapat membaca dengan benar, fasih serta mengetahui kandungan dan mampu mengaplikasikan isi dari  kandungan ayat tersebut.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu kea rah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan)dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (al-baqarah :177)

Ayat tersebut di atas memberikan penjelasan bahwa yang di namakan dengan kebajikan itu bukan di pandang dari segi bagaimana kita melaksanakan ritual secara dlohiriyah. Bukan  menghadapkan wajah ke arah timur ataupun arah barat , walau pada dasarnya ada  pemersatu arah dalam beribadah yang di sebut kiblat. Pada zaman rosulullah sebagian orang beranggapan bahwa yang namanya kebajikan adalah dilihat dari prilaku kemana arah melaksanakan ibadah, untuk itu Allah menurunkan wahyu adanya perubahan arah kiblat shalat pada zaman rosulullah SAW. Memang pada mulanya umat islam melaksanakan shalat lima waktu dengan menghadap ke arah baitul quds (baitul maqdis) di Yerusalem Palestina. Arah kiblat ini di tentukan karena belum ada perintah dari Allah untuk menetukan arah kiblat, lagi pula baitul quds adalah merupakan tempat yang suci yang selalu di jadikan kiblat agama samawi lainnya seperti yahudi dan nasrani. Rosulullah dan para sahabat melahsanakan shalat lima waktu dengan arah kiblat ke baitul quds menurut hadis riwayat shahih bukhari adalah selama kurang lebih 16 – 17 bulan.

Namun Rosulullah meginginkan kiblat untuk umat islam adalah sama dengan kiblatnya nabi Adam as dan nabi Ibrahin as yaitu mengarah ke Kabah baitullah di Masjidil Harram, untuk itu rosulullah sering menengadahkan wajahnya ke langit  berdoa kepada Allah agar senantiasa allah menurunkan wahyu yang memerintahkan mengalihkan arah kiblat dari baitul quds ke baitullah. Rupanya doa beliau di Kabulkan allah swt melalui wahyu surat al baqarah ayat: 144. Perintah untuk  mengubah arah kiblat dari mengahdap baitul quds kea rah kabah terjadi pada saat rosululloh dan para sahaba melaksanakan shalat dhuhur di masjid bani salamah atau yang sekarang di kenal dengan nama masjid kiblatain. Rosululloh menerima perintah mengubah arah kiblat pada saat shalat dhuhur sedah berjalan 2 rakaat, jadi begitu mendapat intruksi dari allah beliau langsung berbalik 180 drajat dari baitul quds, maka para sahabatpun yang menjadi makmum berjalan  berputar memposisikan diri di belakang rosulullah . Perubahan kibalt ini terjadi pada bulan rajab tahun ke 12 H.

Akibat dari dari perpindahan arah kiblat ini, kaum yahudi dan nasrani memperolok-olokkan umat islam. Namun dalam hati kecilnya mereka justru khawatir  karena akan Nampak perbedaan antara yahudi dan islam. Sebab sdikit banyak sebelumnya umat islam masih dapat di terima oleh umat yahudi. Dengan perubahan arah kiblat ini menandakan bahwa kaum muslimin adalah suatu bangsa atau kelompok lain yang terpisah dengan mereka. Oleh karena itu setelah peristiwa tersebut umat yahudi meningkatkan perlawanan terhadap umat islam dan menghormati musuh-musuh islam.

Perpindahan arah kiblat juga dimaksudkan unttuk memisahkan antara kaum munafik dengan kaum muslimimin yang benar-benar tulus dan ikhlas. Kaum munafik  akan banyak protes sedang kaum muslimin yang tulus akan mengikuti apa yang di perintahkan Allah dan rasulNya.

Untuk itu Allah menjelaskan bahwa yang dinamakan dengan kebajikan adalah beriman kepada allah, malaikat, kitabullah, ambiyak, atau semua yang tercover dalam rangkain rukun iman. Setelah menanamkan keinaman tersebut maka dilahirkan dengan amal berupa  memberikan sebagian harta yang di cintainya kepada kerabat dekatnya, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada musafir dan orang yang meminta-minta, perilaku ini sebagai bentuk hablum minannas. 

Namun jangan lupa ada yang lebih urgen lagi yaitu hablum minalloh sebagai bentuk pengabdian makhluk kepada sang khalik yaitu selalu melaksanakan shalat fardhu, melaksanakan puasa, menunaikan zakan serta berkunjung ke baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Seorang mukmin yang benar rupanya belum sempurna bila belum membangun diri melalui peningkatan penghormatan terhadap dirinya sendiri, hal ini bisa di raih dengan sifat kejujuran, selalu menepati janji manakala berjanji dengan orang lain, selau bersikap sabar dalam segala hal, baik dalam menghadapi kesempitan dan kesulitan maupun dalam situasi yang tidak kondusif seperti halnya saat peperangan. Wallahu a'lam

Sunday, September 12, 2010

Urgensi Halal bi Halal Dalam Suatu Komunitas

Sudah menjadi suatu budaya di Negara kita bahwa di bulan syawal diadakan acara halal bi halal, baik oleh masyarakat, instansi  maupun lembaga. Acara tersebut meski di adakan karena bentuk dari penyempurnaan ibadah puasa yang telah di laksanakan sebulan penuh selama Ramadhan. Halal bi halal biasa dikatakan sebagai budaya Indonesia karena istilah ini hanya di kenal di Negara kita Indonesia, adapun Negara yang lain misalnya arab Saudi justru tidak mengenal istilah ini walau halal bi halal merupakan rangkaian kata bahasa arab. 
Menurut DR. Qurais shihab bahwa istilah Halal bihalal,  adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama. Untuk itu dalam menterjemahkan istilah halal bi halal beliau memandang dari 2 sudut pandang, yaitu dari sudut pandang hokum dan dari sudut pandang bahasa.
Menurut pandangan dari segi hukum – kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian menurut para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Jika demikian halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
Namun pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (perceraian misalnya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. Atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.
Menurut pandangan dari segi bahasa – akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti “menyelesaikan problem”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, dan “mencairkan yang beku”.
Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghalang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh, dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Hal ini bisa terjadi karena lama seseorang tidak  berkunjung kepada teman atau saudara yang lain, atau ada sikap adil yang di putuskan(ditetapkan) namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungan dari kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik, yang berku dihangatkan agar mencair, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.
Dari urain di atas dapat di simpulkan bahwa halal bihalal adalah merupakan media yang paling baik untuk menjaga keharmonisan dalam suatu komunitas, di sekolah, di kantor, di desa dan dimanapun agar tidak ada lagi masalah-masalah antar individu maupun kelompok.
Halal bi halal juga mengandung nilai silaturahmi, karena seseorang yang jarang bertemu dengan adanya acara ini ahirnya bisa bertemu dan saling maaf memaafkan.  Rosululloh bersabda “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturrahim”.  Silaturahimmempunyai manfaat yang bayak di antarnya yaitu : Mendapatkan ridho Allah SWT, Membuat orang yang dikunjungi berbahagia. Hal ini amat sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia.”, Menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang bersilaturahmi, Disenangi oleh manusia, Membuat iblis dan setan marah, Memanjangkan usia, Menambah banyak dan berkah rejekinya, Membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap menjalin hubungan baik, Memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali persaudaraan dan persahabatan, dan akan menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya (dalam hal ini, suka bersilaturahmi) akan selalu dikenang sehingga membuat orang lain selalu mendoakannya………..amin

Tuesday, September 7, 2010

Selamat Hari Lebaran

Bagi umat muslim pada saat ini banyak yang bergembira karena sebentar lagi akan lebaran, dimana mereka bisa melaksanakan tradisi saling maaf dan saling silaturahmi. Sebetulnya saling maaf dan silaturahmi tidak meski menunggu hari lebaran,namun karena sudah mentradisi maka lebaran sebagai moment penting untuk saling maaf dan saling silaturahmi.
Istilah “lebaran” sebetulnya dari bahasa jawa yang artinya setelah melakukan sesuatu, atau setelah adanya suatu kejadian, sebagai cintoh pada kalimat :

“Lebar seko ngendi ?”  artinya telah dari mana?
“Lebar solat ashar” artinya setelah solat ashar
“lebar poso” artinya setelah melakukan puasa

Namun istilah lebaran yang di sinonimkan dengan hari raya idul fitri di artikan sebagai suatu keadaan setelah kita melaksanakan ibadah puasa wajib selama bulan ramadhan. Jadi sebetulnya hari lebaran hanya milik mereka yang telah lulus melaksanakan puasanya pada bulan ramadhan. Sedangkan orang yang tidak pernah melaksanakan puasanya di bulan ramadhan maka tidak lebaran, mereka hanya ikut menikmati ramainya suasana lebaran tidak ikut memilikinya.

Sikap  muslim dalam menyambut datangnya hari lebaran terbagi menjadi dua, ada yang merasa senang dan bersukaria, dan ada yang justru merasa sedih karena ramadhan telah tiada.

Kelompok yang bersukaria dengan datangnya hari lebaran adalah kelompok orang awam, mereka senang karena beban puasa sebulan penuh telah usai, tidak perlu menahan belapar dan dahaga lagi di siang hari, sehingga bisa bebas melakukan aktifitas. Terutama anak-anak kecil dan remaja kesempatan untuk main, rekreasi dan memakai pakaian serba baru sebagai hadiah dari orang tuanya. Namun sebetulnya lebaran yang dimaksud oleh agama adalah: “ laisal ‘iddi liman labisal jadiid walakinal ‘iddu liman to’atahu yaziid” artinya bahwa lebaran bukan untuk mereka yang berpakaian serba baru, namun lebaran adalah untuk mereka  yang ketaatanya kepada allah swt bertambah. Meningkatnya ketaatan disini karena mendapat berkah bulan ramadhan setelah menjalani tarbiyyah selama satu bulan penuh.

Sedang kelompok yang kedua adalah kelompok orang Khowas atau khusus, yaitu mereka berpandangan bahwa dengan datangnya lebaran maka berarti usai sudah bulan ramadhan yang penuh dengan ampunan, rahmad dan kebebasan dari api neraka. Orang khowas justru merasa sedih  karena nilai ibadah pahalanya sudah tidak lagi berlipat ganda seperti ibadah di bulan ramadhan.

Sebagai orang awan tentu saja mari kita sambut lebaran dengan bergembira dan selalu menambah keaatan beribadah lepada alloh swt .
Selamat hari raya Idul fitri  tahun 1431 H “ minal ‘aidin wal faizin monon maaf lahir dan bathin”

Agengspreh

Friday, August 6, 2010

Tidak Ada Toleransi Dalam Aqidah

Aqidah adalah sebuah keyakinan yang menentukan keselamatan manusia di masa yang akan datang yakni darul ahirat. Adapun aqidah yang di ridhoi oleh Allah swt adalah aqidah islamiyah yang telah di amanatkan kepada para rasul untuk di sampaikan kepada umatnya, termasuk ajaran Islam yang di sampaikan rosulullah Muhammad saw.

 Saat sosialisasi aqidah tauhid yang dilakukan rosululloh saw di Mekah banyak penolakan dari pada kaum quraisy dimana aqidah ini pertama kali diturunkan, namun karena kegigihan dan ketidak putus asaan Rosulullah maka lambat laun banyak juga yang tertarik dan bersedia mengikuti ajaran tauhid ini. Melihat beberhasilan dakwah Islam itu maka  beberapa tokoh pentolan kaum Quraisy yang masih mempertahankan ajaran nenek moyang merasa mendapatkan ancaman akan habisnya para pemeluk tradisi berpindah ke agama baru yakni aqidah tauhid dinul islam yang jelas-jelas berseberangan dengan kepercayaannya nenek moyang.

Pada kesempatan itu mereka para tokoh pemeluk tradisi bersepakat untuk melakukan negosiasi aqidah dengan Rosululloh. Sebagai delegasi mereka yang ditunjuk adalah Al walid  bin Al Mughirah, Aswad bin Abdul Muthalib, dan Umayah bin Kholaf. Mereka menawarkan agar rosululloh dan umat islam mengikuti kepercayaan mereka dan merekapun akan mengikuti agama islam. Mereka mengatakan kepada rosululloh”wahai Muhammad, bagaimana jika kami menyembah tuhanmu selama setahun dan kamu juga menyembah tuhan kami selama setahun. Jika agamamu benar, kami mendapat keuntungan,karena kami juga menyembah tuhanmu, dan jika agama kami yang benar, kamu juga tentu memperoleh keuntungan.”Namun usaha negosiasi yang mereka lakukan sia-sia karena rosululloh dengan tegas menolak ajakan mereka karena aqidahnya mereka bertentangan dengan islam. Untuk mempertegas penolakan rosulullah tersebut, kemudian Allah menurunkan wahyu berupa surat al kafirun ayat 1-6 dan langsung disampaikan pada kaum kafir mekah yang pada waktu itu mereka sedang berkumpul di masjidil haram. Adapun terjemahan dari surat al kafirun adalah:
  1. katakanlah:”wahai orang-orang kafir”
  2. aku tidakmenyembah apa yang kamu sembah.
  3. dan kamu bukan penyembah tuhan yang aku sembah
  4. dan aku tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang kamu sembah.
  5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang aku sembah.
  6. untukmulah agamamu dan untuk akulah agamaku.

Surat al qur’an tersebut dengan tegas menyatakan bahwa dalam masalah aqidah tidak ada toleransi, bagiku agamaku dan bagimu agamamu.

Saturday, May 29, 2010

Di Balik Ibadah Shalat Yang Kita Kerjakan


Bagi umat muslim shalat merupakan kewajiban yang mesti dilakukan setiap hari dan waktunyapun telah ditentukan. Sehingga bisa di katakana bahwa shalat merupakan ibadah pokok yang memuat nilai kedisiplinan, karena berkaitan dengan waktu yang telah di tentukan. Hukum ini berlaku

Monday, March 29, 2010

Islam dan Modernisasi




Ada saja orang yang mengatakan kembali ke Islam artinya kembali ke jaman onta. Ada juga yang mengatakan jika kembali ke Islam kita akan mundur beberapa ratus tahun ke belakang. Seolah-olah jika kita menjalankan aturan Islam secara kaffah harus meninggalkan semua teknologi yang kita miliki.

Tentu saja pendapat tersebut keliru. Dilihat dari sisi historis saja pendapat tersebut jelas kesalahannya. Sebab pada masa yang lalu justru Islam adalah pemimpin dunia dalam urusan sains dan teknologi.


Ada dua kemungkinan mengapa pendapat seperti seperti itu muncul: mungkin berasal dari keinginan melecehkan Islam, atau mungkin timbul dari pemahaman Islam yang kurang sempurna. Sebagai contoh, saya pernah mendengar cerita dari teman yang entah benar atau salah. Katanya, dahulu seorang syaikh Arab menolak alat bor minyak bumi dengan alasan bid’ah.

Pada masa lalu, teknologi yang dibawa Barat cukup mengagetkan umat Islam. Pada masa kekagetan itu, umat Islam kebingungan dalam menyaring segala sesuatu yang berasal dari Barat. Akibatnya timbul tiga gologan. Gologan pertama melarang segala sesuatu yang datang dari Barat karena berasal dari kaum kafir. Ada golongan yang menerima semua yang berasal dari Barat dengan alasan agar Islam jadi maju. Ada juga yang menyaring mana yang sesuai dengan Islam mana yang tidak.

Saring!

Itu kata yang sering diungkapkan menghadapi modernisasi yang dibawa Barat. Namun apa alat saring yang tepat bagi umat Islam? Yang pasti bukan budaya Indonesia yang tidak jelas. Bagaimana tidak jelas. Budaya Indonesia berbeda dari Sabang sampai Merauke. Mau budaya Aceh? Budaya Bali? Atau malah budaya Papua? Semua budaya itu berbeda dengan kekhasannya masing-masing. Tapi tentu saja bukan dengan budaya Arab. Bahkan semuanya harus ditolak bila tidak lolos saringan Islam.

Alat saring itu adalah kategorisasi hadharah dan madaniyah. Kategorisasi ini diperkenalkan syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nidzamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam, -red). Hadharah, yang sering banyak orang artikan sebagai peradaban, beliau definisikan dengan sekumpulan mafahim (pemahaman/pemikiran/hukum) tentang kehidupan. Sedangkan madaniyah didefinisikan sebagai bentuk-bentuk materiil berupa benda-benda hasil karya manusia yang digunakan dalam kehidupannya.

Berdasarkan pengertian tadi, ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan hukum-hukum serta adat istiadat termasuk ke dalam hadharah. Demokrasi, HAM, privatisasi hak publik merupakan contoh mafahim yang berasal dari hadharah Barat. Sedangkan semua benda konkrit dapat dilihat, dirasa, diraba, dan dipergunakan seperti komputer, handphone dan mobil merupakan bentuk madaniyah.

Hadharah
Hadharah ini khas sesuai dengan ideologinya, karena itu tidaklah netral. Ia dihasilkan dari pandangan hidup tertentu. Hadharah Barat dihasilkan dari pemisahan antara agama dan kehidupan (sekularisme, -red). Sederhananya segala hal yang berkaitan dengan kehidupan, mungkin kecuali ibadah, harus diatur manusia. Hal ini tentu saja bertentangan dengan hadharah Islam.

Hadharah Islam asasnya aqidah Islam. Aqidah Islam menuntut ketundukan penuh terhadap aturan yang diturunkan Allah melalui rasul-Nya. Namun jangan negative thinking dahulu. Walau aturan yang ada dalam Islam sangat komprehensif tapi sebenarnya tidak mempersulit umatnya jika dipahami dengan benar, malah memberikan kesejahteraan bagi yang menjalankannya.

Secara konsep, aturan yang dimiliki Islam menjangkau setiap tindakan pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan jasmaniah maupun naluriah (beragama, seksual, mempertahankan diri). Hal ini karena manusia tidak mengetahui aturan yang baik secara holistik. Selain — tentu saja — menentramkan di dunia, apakah aturan itu bisa menyelamatkannya di akhirat atau tidak.

Karena bertentangan asasnya, sudah pasti hadharah Barat ini lah yang kita saring.

Bila kita melihat lebih dalam, kita akan menemukan banyak pertentangan antara hadharah Islam dan hadharah Barat. Dalam keyakinan misalnya, pemahaman Allah adalah Dzat yang memberi rizki, Maha Pemurah dan Maha Kuasa yang dipresentasikan dengan senantiasa memohon rizki kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya saja merupakan hadharah Islam. Sementara, keyakinan ada kekuatan lain seperti ratu laut selatan atau dewa-dewi hingga perlu pesta laut agar nelayan memperoleh rizki atau ruwatan bagi anak tunggal (dalam tradisi Jawa kuno disebut ontang anting) untuk mendapat keselamatan tergolong hadharah bukan Islam.

Begitu pula pemikiran bahwa manusia harus menutup aurat merupakan hadharah Islam. Sebab merupakan perintah Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31. Sementara, pemikiran manusia itu bebas berperilaku hingga wanita boleh berpakaian mini dalam kehidupan umum (hayatul ‘am), berpakaian ketat dan transparan di hadapan umum merupakan hadharah bukan Islam.

Menyangkut ekonomi, hukum dalam perekonomian tidak boleh sedikit pun mengandung unsur riba merupakan hadharah Islam. Sebab Allah mengharamkannya. Nabi pun menjelaskan betapa besar dosa pelaku riba, bahkan melebihi dosa seseorang berzina dengan ibu kandungnya! Sebaliknya, renten dan riba yang membudaya dilakukan di tengah kehidupan sekarang merupakan hadharah bukan Islam.

Dalam bidang kenegaraan pun demikian. Gagasan tentang paham kebangsaan (nasionalisme) bukan hadharah Islam. Islam tidak mengenal paham seperti ini. Malah Rasulullah SAW bersabda :

“Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, orang yang berperang karena ‘ashabiyyah serta orang-orang yang mati karena ‘ashabiyyah”
(HR. Abu Dawud)

Madaniyah
Bagaimana dengan madaniyah? Madaniyah adalah bentuk fisik, namun tidak otomatis bebas nilai. Hal ini karena ada bentuk fisik yang dipengaruhi suatu hadharah tertentu. Kita pun perlu menyaring hal seperti ini. Pakaian pastur misalnya, pakaian ini dihasilkan hadharah tertentu (Kristen). Karena itu, tidak boleh kita mempergunakannya.

Bila kita perhatikan, Islam pun menghasilkan madaniyah. Rumah dalam konsep Islam adalah tempat kehidupan khusus (hayatul khas) di mana seseorang bisa membuka ‘aurat kecil’-nya (saya lupa istilahnya) di hadapan mahram-mahramnya. Karena itu, Islam pun melarang seseorang ‘noong’ (ngintip) ke dalam rumah. Lebih lagi Islam mengharuskan seseorang meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah. Seorang muslim yang baik membuat rumah dengan memperhatikan konsep-konsep tadi.

Contoh lain madaniyah yang dipengaruhi hadharah Islam misalnya ilmu hisab dalam astronomi yang dipergunakan untuk memperkirakan datangnya hilal. Atau saya pernah mendengar ada sebuah mesjid di timur tengah yang dibangun pada masa yang lampau yang tata akustik ruangannya memungkinkan suara imam sampai di seluruh penjuru masjid tanpa menggunakan speaker.

Selain yang dipengaruhi hadharah, madaniyah yang tersisa netral dan bisa diterima. Sains dan teknologi merupakan contohnya. Siapapun asalkan meneliti dengan cermat akan menemukan hasil yang sama dalam penelitian tertentu apapun agama atau ideologinya. Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”
(HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan aturan bahwa seorang muslim diperbolehkan mengembangkan ilmu pengetahuan, profesi, industri, dan teknologi modern dan apa saja yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan selama tidak bertentangan dengan aturan Islam. Atas dasar ini, Rasulullah mengirim dua orang sahabat yaitu ‘Urwah ibnu Mas’ud dan Ghailan ibnu Maslamah ke kota Jarasy di Yaman mempelajari pembuatan senjata dabbabah (semacam tank di masa itu). Senjata tersebut dipergunakan untuk menerobos benteng lawan.

Saya ingat ada seorang ilmuwan ketika menyampaikan ceramah di Masjid Salman mengatakan sains itu tidaklah netral. Alasannya dengan mencontohkan lukisan porno sebagai aplikasi sains dan teknologi. Tentu saja penjelasannya tidak tepat. Lukisan adalah madaniyah. Sedangkan kepornoannya karena dipengaruhi hadharah tertentu. Contoh tersebut tidak bisa menggeneralisasi semua aplikasi sains dan teknologi pasti selalu dipengaruhi hadharah tertentu. Tentu saja tergantung siapa pemakainya.

Penutup
Modernisasi bisa bermakna dua hal, makna pertama mengambil mentah-mentah setiap hal yang datang dari Barat. Sedangkan makna kedua, mengambil sains dan teknologi Barat bahkan berusaha kembali menjadi soko guru dunia di bidang sains dan teknologi. Bila makna kedua yang dipakai, kita bisa menjadi Islam dan modern sekaligus.

Oleh: Irfan Habibie
Sumber: http://irfanview.wordpress.com/